"Film ini merupakan salah satu alat komunikasi untuk menghentikan aksi terorisme," kata Damien pada acara Tadarus Kebangsaan Maarif Institute berjudul Pluralisme, FilmSI ANAK KAMPOENG, Dan Terorisme di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Jumat (4/9).
Ia mengatakan, melalui film tersebut dirinya ingin menyampaikan bahwa akan selalu ada harapan untuk anak bangsa (Indonesia) terkait aksi bom bunuh diri yang banyak dilakukan oleh anak muda.
Menurut dia, pengalaman konversi Buya Syafii dari seorang aktivis negara Islam menjadi seorang nasionalis beriman kuat sangat layak jadi cermin bagi siapa pun yang selama ini mengikuti jalan ekstrimisme dan terorisme.
"Hal tersebut merupakan sebuah pesan terbuka bahwa wajah Islam sangat toleran, santun, dan bersahabat," tegasnya.
Kepada kalangan perfilman, imbau sutradara muda yang perduli dengan persoalan toleransi dan pluralisme tersebut, dia meminta agar mengangkat isu mengenai terorisme tersebut ke dalam sebuah film.
Ia mengatakan, film SI ANAK KAMPUNG akan dibuat ke dalam sebuah trilogi yang menceritakan mengenai masa kecil Buya Syafii hingga ke titik konversi yang mendambakan negara Islam, sehingga akhirnya ia menjadi pejuang sejati.
Film pertamanya, katanya, akan dirilis pada bulan Maret 2010, kemudian disusul pada bulan Juni 2010 untuk film kedua. "Dan film terakhirnya akan di rilis pada bulan Desember 2010," lanjutnya.
berikut cuplikan video Kisah "Si Anak Kampoeng" Buya Syafii Maarif tokoh Muhammadyah
"Jangan hanya nilai-nilai akademis, tetapi harus juga diajarkan dan dicontohkan kepada anak bahwa mencontek itu tidak baik. Ketika anak melakukan kesalahan, semestinya diperbaiki, bukan dengan cara ditegur atau dihukum," ujar Elin di Jakarta, Selasa (3/5/2011).Pemerhati pendidikan dari Education Forum, Elin Driana, mengatakan, salah satu caranya adalah menentukan sekolah yang tepat bagi anak. Tepat di sini, lanjut Elin, sekolah yang memerhatikan nilai-nilai akademis dan character building secara seimbang.
Elin mengatakan, hal tersebut dapat diajarkan secara sederhana, yakni dengan menanamkan nilai-nilai itu dalam kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah. Untuk itu, lanjutnya, pendidikan karakter tidak perlu dijadikan sebagai satu mata pelajaran khusus di sekolah.
"Semua bisa dimasukkan dalam nilai-nilai yang diajarkan di lingkungan sekolah. Contohnya, anak dapat diajarkan berdisiplin untuk tidak terlambat masuk sekolah, lalu berdisiplin dalam upacara bendera. Jadi, itu yang penting menurut saya, tidak harus dibuatkan mata pelajaran khusus," tuturnya.
Bermula di rumah
Selain menentukan sekolah yang tepat bagi anak, Elin menambahkan, penanaman pendidikan karakter sebaiknya dimulai dari rumah. Dalam hal ini, orangtua kembali mempunyai peran penting untuk membentuk karakter putra-putrinya.
"Kalau dari volumenya, anak itu paling banyak berada di rumah, karena dia (anak) juga, kan, darah daging orangtuanya," kata Elin.
Elin menuturkan, banyak hal dapat dilakukan orangtua untuk membangun karakter anaknya di rumah. Salah satunya membuat pola komunikasi yang baik dengan anak. Hal itu dimaksudkan agar hubungan anak dan orangtua dapat berjalan secara maksimal sehingga karakter anak dapat terlihat.
"Selain itu, bisa juga dengan cara memberikan kebebasan anak melakukan kegiatannya. Namun, kebebasan di sini dalam arti bahwa orangtua juga harus tetap memantau kegiatan-kegiatan mereka itu," pungkas Elin.
kompas.com
"Padahal, memiliki empati sangat penting untuk membentuk karakter manusia yang kuat. Empati adalah karakter paling utama. Bila sudah memiliki empati, kita jadi care kepada orang lain, tidak menyakiti orang lain, dan berusaha untuk tidak berbuat buruk," kata Prof Dr Jalaluddin Rahmat kepada Kompas.com, Kamis (5/5/2011).Tidak hanya itu karena masih banyak berita kekerasan di mana-mana. Kita pun jadi bertanya-tanya, mengapa sekarang rasa empati seolah telah menghilang. Padahal, dulu kita diajarkan untuk saling menghormati dan menolong sesama, berempati. Jangan-jangan sikap empati dan tenggang rasa tidak pernah jadi akar budaya bangsa kita.
Empati dalam kamus diartikan sebagai keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya, keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Jalaluddin menambahkan, rasa empati jika sudah tumbuh bisa menggerakkan orang lain melakukan hal yang sama.
"Dari empati juga akan dilahirkan kejujuran dalam menghadapi dilema moral," imbuhnya.
Menumbuhkan empati, menurut dia, seharusnya menjadi bagian dari pendidikan karakter di sekolah. Anak yang sudah memiliki empati akan memiliki misi dalam hidupnya.
"Jika orang sudah bisa berempati, yang dipikirkannya bukan bagaimana mengambil manfaat dari orang lain, melainkan bagaimana mendatangkan manfaat untuk sekitarnya," kata Jalaludin.
Ia menambahkan, empati akan memengaruhi etos kerja dan sikap seseorang. Kasus-kasus korupsi yang seolah menjadi "budaya" di negeri ini, lanjut Jalaluddin, tidak akan terjadi bila orang punya rasa empati.

